Pages

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Jalan-Jalan Ke Wisata Kota Tua Jakarta

Berbekal KRL CommuterLine perjalanan saya dan teman-teman SMA saya dulu berawal dari Depok tepatnya di Stasiun Pondok Cina...

Sebenarnya saya dan beberapa teman-teman dari bandung bermaksud hanya ke Bogor dan tidak ada terlintas di fikiran saya buat ngunjungin Kota Tua Jakara...

Perjalanan pun dimulai, beberapa stasiun telah dilewati hingga sampailah di Stasiun Jakarta Kota.


Stasiun Kereta Api Jakarta Kota (kode: JAKK), dikenal pula sebagai Stasiun Beos adalah stasiun kereta api yang berusia cukup tua di Kota Tua Jakarta dan ditetapkan oleh Pemerintah Kota sebagai cagar budaya. Stasiun ini adalah satu dari sedikit stasiun di Indonesia yang bertipe terminus (perjalanan akhir), yang tidak memiliki kelanjutan jalur.

Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Dari stasiun Jakarta Kota, sedikit berjalan kami tiba di suatu tempat yang bernama Kota Tua, disini kami banyak menemukan berbagai bangunan tua dari zaman Belanda dulu yang masih berdiri. Di sekitar tempat itu terdapat juga berbagai hiburan menarik.

Yang pertama saya temukan adalah permainan mendirikan botol dengan gelang yang dihubungkan oleh seutas tali dan kayu.

Dengan mudahnya abangnya ngedirikan botol tersebut sambil memberikan tantangan kepada para prngunjung dengan uang 1000 diberi satu kali kesempatan dan yang berhasil akan mendapat sebuah handphone..
Penasaran saya juga mencobanya, tetapi gak seperi ngelihat abangnya yang dengan mudahnya mendirikan botol tersebut, saya langsun gagal.. :( ....

Setelah itu, kami meneruskan perjalanan sambil mengabadikan beberapa momen-momen keren di sekitar Kota Tua Jakarta...

Pengamen yang keren

Pembuat Tatto

Seniman Lukisan Sketsa


Bangunan Bar zaman Belanda


Mobil dan Motor Unik





Museum Fatahillah

Gedung Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini.

Ada pemandangan yang kurang enak di sekitar halaman museum yaitu adanya kolam yang menjadi tempat orang membuang sampah... zzz...



Setelah berkutat di daerah Balai Kota Jakarta, Kami mencoba untuk berjalan ke Pelabuhan Sunda Kelapa.. Dan sepeda ontel lah yang menjadi alat transportasi kami kesana..
Susah juga make sepeda gandeng atau sepeda ontel di tengah keramaian jalanan kota jakarta... :(

Setelah sampai kesana, saya juga tak lupa mengabadikan berbagai momen yang terdapat di pelabuhan yang dulunya merupakan pelabuhan utama tersebut..

Kemudia kita beranjak ke Menara Syahbandar yang dulunya digunakan untuk mengawasi perairan dan pelabuhan.
Menara Syahbandar

Setelah berjalan-jalan kami agak foto-foto sekelak....

Mungkin cukup sekian yang dapat saya ceritakan kepada para pembaca, yang mungkin dapat menjadi pertimbangan daerah tujuan wisata anda semua...

Setelah membaca, Mohon Post-kan komentar
Terima Kasih
Yang lainnya :

Sejarah Titik Nol Bandung

Masing-masing kota pasti memiliki titik nol dengan semua cerita menarik di baliknya. Di Bandung, titik nol nya terletak di pusat kota, tepatnya di Jalan Asia Afrika, di depan sebuah Hotel bergaya Art Deco, Savoy Homann Bidakara, hotel yang pernah disinggahi Ir. Soekarno dan Komedian Dunia Charlie Chaplin. Tugu setinggi kurang lebih 1 meter ini, banyak menyimpan sejarah panjang pembangunan kota Bandung, karena Titik Nol ini masih dianggap sebagai titik pusat pembangunan Bandung.



Ada sedikit cerita dibalik Titik Nol Bandung ini. Dahulu ketika Belanda masih menguasai sebagian besar wilayah Indonesia, Gubernur Jenderal Belanda, Mr. Herman Willem Daendels memerintahkan untuk membangun jalan raya sepanjang 1000 km, termasuk Jalan Raya Pos di Bandung yang sekarang berubah nama menjadi Jl. Asia Afrika. Ketika mengunjungi Bandung, Daendels dan Bupati Bandung, Wiranatakusumah II; meresmikan Jembatan Cikapundung, lalu Daendels berbicara dalam bahasa Belanda, “Usahakanlah, jika saya kembali, di sini telah dibangun sebuah kota”. Sabda Daendels ini konon diucapkan sembari menancapkan tongkat di sebuah titik, yang akhirnya disebut sebagai Titik Nol Bandung tersebut. Dari sini pun, berkembang anggapan bahwa Titik Nol adalah titik balik pembangunan Bandung.

Tidak hanya Tugu Titik 0 saja yang bisa dikunjungi di Jalan Asia Afrika ini, wilayah yang dulunya ini bernama De Grote Postweg dikelilingi oleh bangunan-bangunan mewah sekaligus bersejarah bergaya Art Deco, seperti Gedung Merdeka atau Museum Asia Afrika, tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955. Kemudian ada The Majestic Braga, dulunya bernama Pusat Budaya Asia Afrika yang digunakan untuk gedung bioskop para pembesar zaman Belanda. Di dekat tugu ini pula, terletak kepala lokomotif asli dari tahun 1900 dan masih kokoh dipajang sebagai salah satu ciri bangunan kuno khas Bandung.

Jadi kalau Anda ke Kota Kembang, sempatkan untuk bernapak tilas sejarah Bandung di Titik Nol dan bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya. Seakan menelusuri Bandung melalui lorong waktu, menggugah kesadaran kita untuk makin menghargai sejarah dan optimis menatap masa depan. (FA/RA)

Sumber : Bandung Review

Setelah membaca, Mohon Post-kan komentar
Terima Kasih
Yang lainnya :

Cerita Rakyat Aceh : Putri Bungsu

Cerita Rakyat Aceh : Putri Bungsu -
Saat Tuntung Kapur melihat, ”Ternyata ada putri cantik. Turunlah putri. Ayo, Turunlah agar kita bisa mandi bersama-sama di sungai. Aku punya sampo jeruk purut kasturi, taik ayam taik biri,” kata Tuntung Kapur pada Putri.
Namun, putri belum juga mau turun. Tuntung Kapur memaksa. ”Turunlah Putri, kalau putri tidak mau, kucubit sampai kulit-kulit putri terkoyak,” ancam Tuntung Kapur. Karena takut dengan ancaman Tutung Kapur, putri pun akhirnya turun.

“Putri, ayo kita mandi, memakai sampo dan kita lomba menyelam. Ayo, Putri harus cepat-cepat membuka baju melepas semua perhiasan dan turun duluan ke sungai. Setelah putri menyelam aku akan  menyusul,” kata Tutung Kapur.
Dengan lugunya, putri langsung melepas semua perhiasan dan  menceburkan diri ke dalam sungai. Selain itu, putri juga menyelam dengan sangat lama, berharap ia akan menjadi pemenang. Sedangkan Tuntung Kapur ternyata tidak mandi. Tuntung Kapur memakai semua pakaian dan perhiasan milik putri. Ketika putri selesai menyelam, Tuntung Kapur telah siap dengan perlengkapan milik putri. Melihat itu, putri sedih. Dia baru teringat pesan kakaknya.
”Putri, bajunya aku pinjam, ya? Sepertinya aku cantik memakai baju milik Putri,” kata Tutung Kapur.
“Tapi baju untukku mana, aku tidak punya baju yang lain.”
“Putri pakai saja bajuku, kita tukaran sebentar, ya.”
Baju milik Tuntung Kapur adalah baju yang sangat jelek, seperti jala ikan yang sudah terkoyak-koyak. Sedangkan baju putri adalah baju yang bersulam emas. Putri menangis, menyesali dirinya yang tidak mau mendengar nasihat kakaknya.
“Ih, Putri, jangan menangis. Kenapa harus menangis, aku hanya meminjam sebentar. Putri lucu ya,” Tuntung Kapur merayu.
Dengan girang, kemudian Tuntung Kapur berlari pulang, memamerkan kecantikan baju yang dia pakai pada ayah dan ibunya. “ Ayah, aku mau pergi ke hilir bersama dengan temanku. Dia datang khusus untuk menjemputku dari jauh,” kata Tutung Kapur. Ia berniat mengikuti putri ke mana tujuannya.
Sekembalinya ke sungai, Tutung Kapur melihat putri masih menangis sambil meminta bajunya. “Kembalikan bajuku,” pinta Putri.
Tapi Tuntung Kapur malah tidak peduli dengan permintaan putri. Lagi-lagi dia mengancam. “Putri, aku sudah bilang mau pinjam sebentar. Kalau memang putri tidak memberi, biar kucubit sampai terkoyak kulit putri.”
Mendengar ancaman itu, putri hanya diam. Tuntung Kapur lalu mengajak putri untuk cepat-cepat naik ke atas perahu agar bisa lebih cepat meninggalkan tempat itu. Sesampai di atas perahu, perahu tidak bergerak sedikit pun. Tuntung Kapur jadi heran.
“Putri, bagaimana caranya? Ayo cepat, ajari aku. Setelah aku bisa nanti, aku akan membawa sendiri perahu ini,” katanya.
Putri menangis lagi, sambil dia bernyanyi.  ”So…so…perahu berdeso, Kakakku ke langit ke Bujang Jere, aku ke hilir ke Malim Dewa.”
Sesaat perahu pun berlaju. Kemudian Tuntung Kapur juga ikut bernyanyi, menyanyikan lagu yang sama. Akibatnya, perahu berhenti dan tidak bergerak lagi. Dengan kejadian itu, Tuntung Kapur sepanjang perjalanan hanya diam saja.
Sesampai ke hilir, kabar kedatangan Putri Bungsu ternyata sudah tersebar ke seluruh penjuru, hingga beramai-ramai masyarakat menungguinya di pemberhentian. Setiap orang ingin melihat langsung Putri Bungsu yang sudah terkenal kecantikannya. Sedangkan Tuntung Kapur tidak mau lagi mengganti baju dan segala perhiasan milik Putri Bungsu masih tetap dikenakannya.
Tibalah Tuntung Kapur dan Putri Bungsu di kampung yang dituju. Malim Dewa sang pangeran pun sudah siap menunggu. Tapi kenyataan menjadi berbeda, Tuntung Kapur malah mengaku menjadi Putri Bungsu. Putri sendiri dikatakan hanya sebagai pesuruhnya. Sedangkan Putri Bungsu tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menangis mengingat dirinya yang tidak patuh pada nasihat kakaknya.
Malim Dewa punya inisiatif baik, ia juga membawa Putri Bungsu ke istana, sekalian dengan Tuntung Kapur. Sesampai di istana, pesta besar pun digelar. Tuntung Kapur menikah dengan Malim Dewa. setelah menikah, Malim Dewa belum juga tahu bahwa yang dinikahinya bukan Putri Bungsu yang sebenarnya. Putri yang sebenarnya hanya dijadikan sebagai pesuruh.
Seminggu berselang, kerabat sudah mulai pulang, rumah Malim Dewa menjadi sepi. Malim Dewa meminta istrinya memasak seekor ayam. Dasar Tuntung Kapur yang tidak pernah bekerja dan tidak pernah memasak ayam, malah yang dimasaknya adalah bulu-bulu ayam, sedangkan daging ayamnya dilempar ke luar, diberikannya pada Putri Bungsu. Kemudian Putri Bungsu memasak daging ayam dan merasa senang karena bisa makan enak. Saat masakan putri bungsu mendidih, masakannya bisa berbicara. “Dek-dek kuali, raja menjadikan Tuntung Kapur sebagai istri… Putri Bungsu jadi pembantu,” begitulah ucapan-ucapan yang keluar dari masakan Putri Bungsu.
Mendengar itu, Tuntung Kapur naik pitam. Dia meminta suaminya untuk membuang pembantunya itu ke tengah hutan. Kemudian semua masyarakat dikumpulkan untuk mengarak Putri Bungsu ke hutan. Sesampai di hutan, putri Bungsu dibuang. Setelah semua orang pergi, putri menangis tiada henti sambil meratap dan menceritakan segala kisah hidupnya.
“Alahai nasibku yang tidak sama dengan orang, anak tiada, ibu pun tiada, berbapak pun tidak. Hidup berdua dengan kakak yang aku sayangi, tapi ia telah pergi meninggalkan aku. Kakakku pergi ke langit ke Bujang Jere, aku ke hilir ke Malim Dewa.”
Di sela-sela ratapannya, air matanya terus mengalir, terhimpun segala kesedihan, Putri Bungsu menangis terisak-isak. “Sampai ke hilir, aku bertemu Tuntung Kapur yang merampas kain bajuku, yang merampas emas perakku. Aku dijadikan anak tangga rumah mereka. Ala hai nasib, kini tanpa kesalahan apa pun aku dibuang ke tengah hutan. Aku dijadikan makanan dari segala binatang di hutan ini,” putri terus menangis sambil berdendang.
Tiba-tiba ada harimau ke luar dari hutan merasa iba dengan tangisan Putri Bungsu. “Jangan menangis lagi Putri, aku tidak akan mengganggumu. Sekarang katakan apa yang kau sedihkan, siapa tahu aku bisa membantu,” kata harimau.
“Hidupku berbeda dengan orang lain. Aku hanya sendiri, tidak ada rumah, tidak ada saudara, bagaimana aku hidup di bawah pohon?”
“Jangan menangis Putri, aku akan memanggil semua kawan-kawanku,” sahut harimau.
Tiba-tiba segala binatang yang ada di hutan berkumpul, gajah, monyet, babi, rusa. Berkata gajah, ”Jangan menangis lagi Putri Bungsu, kami akan membuat rumahmu.”
Kemudian dengan secepat kilat binatang-binatang tersebut telah siap membuat sebuah rumah untuk Putri Bungsu di atas pohon dengan mahligai yang sangat indah. Kemudian putri terharu dan menangis lagi. Lagi-lagi dia berfikir bagaimana dia makan. Jika tidak ada makanan, sia-sia saja dia punya rumah.
Babi mendengar tangisan itu. “Jangan menangis Putri Bungsu. Kami akan menyediakan usaha untukmu,” kata babi.
Tiba-tiba binatang-binatang itu menggarap tanah. Babi dengan tikus membawakan biji-bijian untuk ditanam. Akhirnya siaplah sebuah kebun dengan beraneka ragam isinya, padi, labu, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran.
Lama waktu berselang, hingga padi-padi mulai berbunga. Tiba-tiba datang masyarakat kampung melintasi hutan dengan niat berburu, karena berburu adalah hal yang paling disenangi Malim Dewa. Sungguh terkejut mereka melihat di tengah hutan ada sebuah kebun dengan tanaman yang sangat lengkap.
Sesampainya di hutan, anjing-anjing pemburu yang dibawa tidak  tangkas lagi. Semuanya hanya bisa duduk, menggonggong, dan berjalan berkeliling di sekitar rumah Putri Bungsu. Malim Dewa semakin heran, tidak pernah ada kejadian serupa ini. Anjing-anjing mereka adalah anjing terbaik. Tak berlama di situ, akhirnya mereka pulang. Tapi ada hal yang mengejutkan lagi, anjing-anjing pemburu milik Malim Dewa tidak pulang. Dia berdiam di dekat tempat tinggal Putri Bungsu.
Besoknya, Malim Dewa punya inisiatif untuk menjemput anjing pemburunya ke hutan. Takut-takut jika anjingnya dimakan harumau. Ternyata tidak. Anjing Malim Dewa masih ada tepat di bawah rumah Putri Bungsu. Anjing itu kemudian dibawa pulang. Namun, anjing malah ingin kembali lagi ke hutan. Dengan alasan itu, akhirnya Malim Dewa keluar masuk hutan berkali-kali. Dan berkali-kali itu pula dia melihat ada sebuah rumah di atas pohon dengan mahligai indah. Akhirnya, dia teringat pernah mengantar pesuruhnya ke hutan ini. Jangan-jangan itulah orang yang diantarnya dulu. Malim Dewa mulai curiga.
Tiba-tiba dari atas rumah terdengar suara tenun. Malim Dewa mendengar dengan teliti suara-suara tenun itu. Hingga akhirnya dia yakin bahwa yang berada di atas pohon itu adalah manusia. Putri Bungsu demikian pula, dia tahu beberapa hari ini Malim Dewa berada di sekitar rumahnya.
Padi-padi yang mulai menguning mulai didatangi burung-burung. Dari atas rumahnya, Putri Bungsu menghalau burung dengan nyanyian. “O yayayo, suara burung, jangan dimakan pulut lengkawi untuk lepat dan tumpi, hajat niat habis panen ini.”
Nyanyiannya diselingi dengan ketukan tenun yang dimainkannya, hingga bagai ada alunan musik. Tanpa sadar, Malim Dewa sudah berada sangat lama hanya untuk sekedar mendengar nyanyian Putri Bungsu. Dia lupa pulang.
Akhirnya dia sadar, baru dia pulang ke kampung. Tapi sesampainya di kampung, dia kembali mengajak masyarakat kampung untuk berburu rusa putih ke hutan, sebagai obat penyubur rahim istrinya. Memang itulah permintaan istrinya. Masyarakat patuh. Berbondong-bondong masyarakat ikut ke hutan mencari rusa putih yang diperintahkan oleh Malim Dewa, sedangkan Malim Dewa langsung menuju pelataran rumah Putri Bungsu. Malim Dewa semakin berpikir tentang seseorang yang ada di atas pohon. Akhirnya ia tanyakan pada teman dekatnya. “Teman, coba lihat rumah yang ada di atas pohon itu, menurutmu itu manusia biasa atau bukan? Jika manusia, mengapa rumahnya di atas pohon tanpa ada tangga dan dia hidup sendiri. Jika memang bukan manusia, aku mendengarnya menyanyi, menenun, dan dia punya kebun-kebun dan sawah-sawah.”
Terdengar lagi suara Putri Bungsu bernyanyi dari atas rumahnya, sambil menghalau burung-burung padi. Nyanyian itu diselingi dengan suara burung yang berkicau, berdialog dengan Putri Bungsu. “Tik, tik, tik, jangan takut hai Putri Bungsu, aku tidak memakan biji padimu, aku hanya minum di kelopaknya, aku bermain-main di tangkainya.”
Putri menyahut, ”Beras pulut itu untuk lepat dan tumpi hajat niat habis panen ini.”
Malim Dewa semakin penasaran. Dia minta seorang temannya untuk mencari tahu tetang orang di atas pohon. Temannya pun melaksanakan. “Hai, siapa pun yang ada di atas sana, aku ingin berbicara denganmu. Bolehkah aku naik k e atas rumahmu?” kata teman Malim Diwa.
“Kalau memang mau naik, naik saja. Tapi bilang, kamu datang dengan siapa?” sahut suara di atas pohon.
“Aku mau naik sendiri saja, karena aku datang hanya sendiri. Boleh aku naik, apa kamu hanya sendiri?”
“Naiklah, aku hanya sendiri di sini, tidak ada suami dan tidak ada sesiapa.”
“Bagaimana aku bisa naiki rumahmu, sedang aku tidak melihat ada tangga di sini,” jawab teman Malim Diwa lagi.
“Itu ada tangga di dekatmu, naiklah.”
“Aku tidak melihatnya, di mana?”
Setelah berbicara seperti itu, barulah terlihat ada tangga yang sangat tinggi. Ternyata tangganya bukan sembarang tangga. Tangganya tidak bisa dilihat oleh orang biasa, kecuali atas izin Putri Bungsu.
“Aku ingin naik satu anak tangga saja.”
”Naiklah.”
Pertama memang satu anak tangga yang dinaiki oleh teman Malim Dewa, tapi kemudian menjadi dua, tiga dan akhirnya sampai ke atas. Akhirnya, dia duduk di atas rumah putri dengan menggantung kakinya di pintu rumah. “Kamu siapa, mengapa hidup sendiri di tengah hutan seperti ini?” tanya teman Malim Diwa.
“Nasibku tidak sama seperti orang lain. Aku anak yatim piatu, tak ada ayah tak ada ibu. Dulu aku hidup berdua dengan kakakku. Tapi sekarang kami berpisah. Kakakku ke langit ke Bujang Jere, aku Ke Hilir ke Malim Dewa. Di perjalanan, aku tidak mendengar nasihat kakakku dan aku bertemu dengan Tuntung Kapur yang jahat. Dia merampas segala pakaianku, emas pirakku. Jadinya, Tuntung Kapur yang jahat yang dipersunting oleh Raja Malim Dewa, aku hanya dijadikan sebagai pesuruh, duduk dijadikan anak tangga. Tanpa kesalahan apa pun aku dibuang ke hutan, hanya Tuhan yang telah memberi pertolongan padaku,” kata Putri Bungsi bercerita.
“Aku ingin jujur, aku adalah pesuruh Malim Dewa yang diminta untuk mencari tahu keberadaanmu di sini wahai Putri Bungsu. Sekarang kami diperintahkan mencari rusa putih oleh raja, sebagai obat istrinya.”
”Bagus itu. Aku tidak pernah minta apa pun seumur hidupku, kecuali yang aku inginkan satu hal, yaitu aku ingin Tuntung Kapur mengembalikan semua milikku. Bawa pula jeruk nipis dan cabe yang telah digiling ke dalam satu toples yang besar, hanya itu saja. Kalau masih ada Tuntung Kapur, aku tidak akan pulang lagi ke kampung.”
Setelah berdialog cukup lama, teman Malim Dewa kembali membawa kabar tentang keberadaan orang di atas pohon. Setelah semua cerita tersampaikan, Malim Dewa jadi terkejut. Mereka bersama-sama pulang kampung.
Keesokan harinya, Malim Dewa datang lagi ke hutan. Kali ini dia datang dengan membawa barang-barang yang dipesan oleh Putri Bungsu. Sekaligus membawa Tuntung Kapur. Pada Tuntung Kapur, Malim Dewa sedikit berbohong. Malim Dewa mengatakan, rusa putih telah ditemukan dan hanya Tuntung Kapur saja yang bisa menjinakkannya. Berangkatlah Malim Dewa beserta masyarakat dan istrinya ke hutan.
Sesampainya di hutan, teman Malim Dewa naik terlebih dahulu dan berkata, “Putri kami telah membawa pesananmu yang kemarin.”
“Kalau memag Tuntung Kapur datang, aku ingin membalaskan dendamku padanya,” kata Putri Bungsu.
Putri bungsu pun dipertemuka dengan Tuntung Kapur disaksikan oleh masyarakat dan Malim Dewa. Kemudian putri mengambil kembali segala harta miliknya yang dipakai oleh Tuntung Kapur. Setelah semua terlepas, Putri Bungsu kemudian mengiris-iris daging Tuntung Kapur dan memasukkan dagingnya ke dalam toples cabe dan jeruk nipis, hingga sampai habis daging Tuntung Kapur dipotong-potong oleh Putri Bungsu. Kemudian toples yang sudah berisi daging itu dikirimkan pada kedua orang tua Tuntung Kapur.
Saat melihat daging Tuntung Kapur, kedua orang tuanya pingsan hingga meninggal di tempat. Akhirnya, Malim Dewa dan Putri Bungsu menikah. Pesta meriah terlaksana hingga akhirnya mereka hidup bahagia.
Ditulis kembali oleh Rismawati
berdasarkan tuturan langsung Bibi Shaleh, 80 tahun, warga Kampung Badak, Blangkejeren.

Source : http://blog.harian-aceh.com/putri-bungsu-2.jsp

Masjid Baiturrahman, Saksi Sejarah Aceh

Masjid Baiturrahman, Saksi Sejarah Aceh - Mesjid Baiturrahman telah menjadi simbol Aceh. Menelusuri sejarah Mesjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, ibarat melihat perjalanan bumi Serambi Mekah. dimulai dari masa kesultanan, penjajahan Belanda dan masa bersama Indonesia lengkap dengan pemberontakannya. Mulai Daerah Operasi Militer, perjanjian damai hingga bencana tsunami. Rumah ibadah ini menyaksikan semuanya.
Sejarah mencatat, Baiturrahman kembali melewati satu babak dalam sejarah masyarakat Aceh. Mesjid ini merupakan simbol Aceh. Perjalanan Mesjid ini juga merekam sejarah Aceh. Karena itu tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh, tanpa menengok Mesjid berkubah lima ini dan sedikit mengenal sejarahnya.
Mesjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman kesultanan. Ada dua versi hikayat pendiriannya. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun Mesjid ini pada abad ke 13. Dalam versi lain menyatakan Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Nama Baiturahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu Mesjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Perubahan fisik mesjid mengikuti alur sejarah bumi Serambi Mekah. Bangunan yang kelihatan sekarang bukanlah lagi bangunan semasa zaman kesultanan. Pada masa kesultanan, gaya arsitektur Baiturahman mirip Mesjid-Mesjid tua di Pulau Jawa. Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat yang memiliki 1 kubah. Pada 1873, mesjid ini dibakar oleh Belanda dikarenakan mesjid dijadikan pusat kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Dan pada tahun itu pula terjadi pertempuran besar antara rakyat Aceh dengan tentara Belanda. Tembak menembak yang membuat gugurnya salah seorang perwira tinggi Belanda bernama Kohler. Pertempuran di Mesjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman Mesjid. Letak prasasti di bawah pohon Geulempang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang Mesjid.
Peletakan batu pertama pembangunan kembali Mesjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der Heijden. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan Mesjid sebagian didatangkan dari Penang – Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Pembangunan kembali Mesjid dengan satu kubah, selesai dua tahun kemudian. Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh Mesjid ini kembali diperluas. Kemudian setelah itu, masyarakat Aceh semakin besar, untuk mengupahi dan meredakan kemarahan rakyat Aceh maka Mesjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian. Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nangroe beralih pada Indonesia.
Pada 1957, masa pemerintahan presiden Soekarno, Mesjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di pasar Aceh yang berada di sekeliling mesjid tergusur. Peletakan batu pertama dilakukan oleh menteri agama Republik Indonesia pada masa itu KH Ilyas, kemudian dibangun kira-kira empat tahun. Bangunan berikutnya itu sudah sampai pada menara yang berikut ini. Renovasi Mesjid yang dilakukan pemerintah Soekarno terjadi pada masa gerakan Darul Islam pimpinan Daud Beureueh. Sehingga banyak kalangan yang mengaitkan pembangunan itu sebagai usaha pemerintah meredam pemberontakan itu. Lima kubah juga dianggap mewakili Pancasila yang digagas Soekarno. Pada kurun 1992-1995, Mesjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, Mesjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman Mesjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar.
Semua pemugaran ini dilakukan dengan mempertahankan arsitektur dan bentuk ornamen lama pada masa Belanda. Salah satu tiang peninggalan Belanda, ketika Mesjid masih berkubah satu, masih dipertahankan. Arsitektur Mesjid ini bercorak eklektik, yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri.Ini misalnya tampak pada tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Moorish, yang banyak terdapat di Mesjid-Mesjid Afrika Utara dan Spanyol. Sementara bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, diatapi kubah utama yang bercorak bawang. Pucuknya dihiasi kubah, mirip Mesjid-Mesjid kuno di India. Pada jendela yang sekaligus menjadi pintu terdapat ukiran yang tampak kokoh dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, Mesjid ini ditempatkan di tengah lapangan terbuka, sehingga semua bagian Mesjid jelas terlihat juga dari kejauhan.
Mesjid Baiturrahman menjadi saksi darurat militer di Aceh, ketika muncul Gerakan Aceh Merdeka. Baiturrahman ini menjadi tempat memanjatkan doa dan harapan rakyat Aceh atas tanggungan beban konflik yang dideritanya. Baiturrahman ini juga menjadi sarana singgah pejabat pusat mengunjugi Aceh yang ketika itu tak aman. Baiturrahman yang konon merupakan salah satu Mesjid terindah Asia Tenggara ini juga menjadi saksi bisu bencana tsunami. Bencana memilukan itu juga merusak sejumlah bagian Mesjid. Rakyat menyelamatkan diri kedalam mesjid sembari meneriakkan Asma Allah.
Pada halaman Mesjid inilah berdirinya posko bencana pertama pasca tsunami Desember 2004 tersebut. Mesjid ini tangguh bertahan dari gempa dan terjangan air laut yang naik ke daratan. Hanya sedikit bangunan yang retak akibat gempa.
Pasca tsunami perdamaian datang. Mesjid ini kembali menjadi bagian sejarah itu. Di Mesjid inilah warga menggelar doa khusus ketika delegasi Indonesia bertemu dengan wakil Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia. Mesjid Baiturrahman menyaksikan perubahan Aceh pasca tsunami dan perjanjian damai. Ketika syariah Islam berlaku di Serambi Mekah, kawasan Mesjid Baiturahman dinyatakan sebagai area terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat sesuai hukum syariah boleh masuk halaman Mesjid.

Koleksi Foto Sejarah Peninggalan Belanda di Pulau Weh Sabang

Pulau Weh atau yang lebih dikenal dengan nama Sabang, merupakan salah satu pulau yang berada paling ujung barat Indonesia.
pulau ini berada di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Sabang merupakan salah satu tujuan wisata di Aceh, dengan andalan wisata baharinya,
Sabang menawarkan berbagai Keindahan alam, serta Taman lautnya yang ada di pulau rubiah. Banyak wisatawan baik domestik ataupun wisatawan asing yang berlibur kepulau ini.


Selain itu, Sabang juga mempunyai banyak peninggalan Sejarah masa penjajahan Belanda pada masa dulu. dan juga masih banyak bangunan peninggalan dulu yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Berikut beberapa koleksi Foto pada jaman dahulu saat belanda menduduki kota sabang.








Gambar diatas merupakan sistem perekonomian yang berjalan di teluk sabang yang sekarang sudah menjadi Freeport atau pelabuhan bebas

hotel samudra, yang sekarang masih dipakai sebangai tempat penginapan
RSU Sabang, sekarang masih juga dipakai sebagai rumah sakit di kota Sabang


Taman Ria adalah taman yang teridah dikota Sabang, taman ini bereda tepat didepan Hotel Samudra
Sabang Hill. merupakan sebuah bukit yang diatasnya terdapat Hotel yang menghadap kelaut lepas (selat malaka)

Itulah beberapa koleksi foto pada jaman dahulu ketika belanda menduduki pulau sabang, dan masih banyak lagi situs-situs sejarah peninggalan jaman dahulu yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Kebijakan Presiden Soeharto Kepada Warga Tionghoa

Selaras dengan terjadinya Gerakan 30 September (G30S), dimulailah kampanye sinophopia atau anti-Tionghoa yang luas, disponsori kekuatan asing, terutama Inggris dan Amerika Serikat (AS).

25 Maret 1966, Pemerintah menutup perwakilan kantor berita Hsinhua (sekarang ditulis Xinhua) dan mencabut seluruh kartu pers wartawannya.
“Mereka membelokkan opini rakyat Indonesia dengan menyatakan musuh bangsa dan rakyat Indonesia yang sesungguhnya adalah China yang berasal dari utara, yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dengan serentak semua media massa Indonesia - yang lolos screening Angkatan Darat dan diizinkan terbit kembali – melakukan propaganda anti-Tionghoa dan anti-RRT”
( Tionghoa Dalam Pusaran Politik, Bab 49. )



Peristiwa - Peristiwa yang Terjadi

Mulai April 1966 tindakan kesatuan-kesatuan aksi mendapat dukungan militer yang mengeluarkan perintah penutupan 629 sekolah-sekolah Tionghoa, sehingga 272.782 murid dan 6.478 gurunya terlantar.

Dengan Surat Keputusan 6 Juli 1966, Menter I Pendidikan dan Kebudayaan melarang murid eks sekolah Tionghoa ditampung di sekolah swasta nasional, sedang di sekolah negeri hanya dibatasi kurang dari lima persen saja.

tanggal 8 Mei 1966 Pangdam Aceh, Brigjen Ishak Djuarsa memerintahkan seluruh Tionghoa WNA meninggalkanAceh sebelum 17 Agustus 1966. Alhasil lebih dari 15.000 Tionghoa terpaksa angkat kaki dari Serambi Mekkah.

Ucapkan terima kasih anda dengan meng-klik iklan di blog ini.
Terima Kasih

Era Orde Baru Dan Peristiwa - Peristiwa di balik Masa Orde Baru

Awal Orde Baru

10 Januari 1967
Presiden Soekarno menyampaikan pelengkap Nawaksara untuk melengkapi laporan pertanggung-jawabannya mengenai terjadinya Peristiwa G-30-S/PKI kepada Pimpinan MPRS.
Dalam pelengkap itu menyatakan bahwa mengapa hanya Presiden Soekarno yang bertanggung jawab atas masalah tersebut, Namun pelengkap itu tidak dapat diterima oleh MPRS.

9 Februari 1967
DPRGR menolak Nawaksara, malah berpendapat bahwa kepemimpinan Soekarno membahayakan keselamatan Bangsa dan kemungkinan terlibat dalam Peristiwa G-30-S/PKI


20 Februari 1967
Penyerahan kepada Pengemban Ketetapan MPRS no.IX/MPRS/1966, sebagai tindak lanjut hal itu. MPRS mengeluarkan ketetapan no. XXXIII/ MPRS/1967 tertanggal 12 Maret 1967 yang secara resmi mencabut seluruh kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno.

27 Maret 1967
MPRS mengangkat Letnan Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI berdasarkan Ketetapan MPRS No.XLIV/MPRS/1968, smapai presiden baru hasil pemilihan umum ditetapkan.

Sejak saat itu mulailah ERA ORDE BARU.

Dari uraian singkat di atas muncul berbagai pertanyaan ….

Apakah benar Presiden Soekarno terlibat G-30-S/PKI ?
Apakah G-30-S/PKI merupakan rencana Soeharto untuk menjadi Presiden?
Apakah ada keterlibatan Presiden Soeharto atas kejadian itu ??

Sekilas G-30-S/PKI

Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut, kita harus membahas hal – hal mengenai G-30-S/PKI

Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 di mana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha pemberontakan yang disebut sebagai usaha Kudeta yang dituduhkan kepada anggota Parta Komunis Indonesia. (id.wikipedia.org)

Data - Data Sebelum / Sewaktu G-30-S/PKI

Bung Karno membuka poros jakarta – peking

Amerika saat itu gerah dan takut indonesia menjadi kekuatan komunis terbesar setelah cina dan rusia, mengingat saat itu PKI menjadi partai besar.

Bung karno yang anti barat juga membuka konfrontasi dengan melaysia, karena daerah sabah itu seharusnya kalimantan utara.

Amerika yang merasa bung karno semakin membahayakan mencari cara bagaimana menjatuhkan bung karno tanpa konfrontasi terbuka (inggris sampai menurunkan pasukan gurkha buat jaga malaysia). mereka mencari cara bagaimana menjatuhkan bung karno, termasuk dengan pelemparan granat di cikini.

Soeharto orang yang tidak pernah disangka amerika mengambil alih situasi, Amerika pun memanfaatkan situasi dengan membantu walau mereka bingung siapa Jenderal Soeharto ini, dan dia ada dipihak mana.


Apakah benar Presiden Soekarno terlibat G-30-S/PKI ?

Beberapa tanggapan atas pertanyaan tersebut…( Yahoo Answers )

- Rasanya kurang logis, hanya dengan alasan beliau dekat dengan kaum komunis lalu beliau dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab atas peristiwa G 30 SPKI. Munurut saya, beliau hanya muak dengan imperialisme dan kapitalisme, yang terbukti hingga hari ini sudah mencabik-cabik harga diri kita sebagai bangsa. Namun saya juga ingin mendengar pendapat yang lain tentang beliau dan G30 SPKI..

- Beliau memang dekat dengan org2 besar yg berfaham komunis,seperti presiden China pada massa itu,presiden Soviet,dan Fidel Castro presiden Cuba..saya percaya beliau bukan komunis. Saya salut pada Che Guevara dia orang yg berpaham maxis tp tidak komunis walaupun saat itu dia org no.2 di Cuba..Nah..jd Pak.Karno sama seperti Che..mereka hanya muak dengan Kapitalisme..

-Itu hanya politik amerika.. yang bertolak belakang dengan idiologi unisoviet.. Amerika yang juga takut dengan sosok Bung Karno memanfaatkan kesempatan menjatuhkan Bung Karno. Pada saat itusulit bagi indonesia untuk menemukan sosok pemimpin seperti Bung Karno terpilih secara aklamasi...pemimpin yang brani bisa membangkitkan semangat nasionalisme..

-Menurut saya tidak. dalam artian beliau memang mempunyai keinginan suatu faham..faham nasakom.. akan tetapi,bukan berarti dia ikut dalam keorganisasian PKI yang dibuat aidit... Marhaenisme kalau secara sekilas kita pandang sedikit hampir sama dengan faham komunis, tetapi esensinya tidak.. nah anda bisa lihat bahwa Bung Karno kita tidak terlibat G 30 S PKI.. kalaupun bukti yang menguatkan, seperti ada kartu keanggotaan PKI.. tukang cetak kartu pun banyak yang bisa malsuin..


Apakah G-30-S/PKI merupakan rencana Soeharto untuk menjadi Presiden ?

Hubungan Soeharto, terutama dengan Kolonel Latief, seorang tokoh G3OS, begitu akrab dan mesranya. Lepas dari persoalan apakah hubungan yang erat itu karena Soeharto yang menjadi bagian atau pimpinan G30S yang tersembunyi, atau karena kelihaian Soeharto memanfaatkan tokoh-tokoh G30S untuk mencapai tujuannya menjadi orang pertama di Indonesia.
Seterusnya Kolonel Latief mengemukakan bahwa 30 September 1965 (malam), ia berkunjung ke RSPAD untuk menjumpai Jenderal Soeharto, yang sedang menunggui putranya yang tersiram sup panas. Sambil menjenguk putrandanya itu, juga untuk melaporkan bahwa dini hari l Oktober l965 G30S akan melancarkan operasinya guna menggagalkan rencana kudeta yang hendak dijalankan Dewan Jenderal. Kunjungannya ke Jenderal Soeharto di RSPAD tersebut, adalah merupakan hasil kesepakatan dengan Kolonel Untung dan Brigjen Supardjo.

( Sulangkang Suwalu dalam G30S/Soeharto, Bukan G3OS/PKI )Sulangkang Suwalu : tokoh yang hidup pada masa G-30-S/PKI

Dan Masih banyak cerita – cerita lain dibalik peristiwa G-30-S/PKI
Setiap Orang memiliki banyak tanggapan dan pro-kontra…

Hanya Tuhan-lah yang tahu di balik kejadian ini semua.


Masa Jabatan Soeharto

Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.

Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.

Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi, pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya.


Kebijakan - Kebijakan presiden Soeharto

-Pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran seperti Revolusi Hijau dan Industrialisasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia

-Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka.

-Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia

-Meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya.


Kelebihan Sistem Pemerintahan Orde Baru

Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$ 70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$ 1.000
Sukses transmigrasi
Sukses KB
Sukses memerangi buta huruf
Sukses swasembada pangan
Pengangguran minimum
Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
Sukses Gerakan Wajib Belajar
Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
Sukses keamanan dalam negeri
Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri


Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru

Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat
Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel
Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius" (petrus)
Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)


Jatuhnya Orde Baru

Disebabkan oleh faktor – faktor berikut :

Munculnya tuntutan reformasi, seperti pemberantasan KKN, penghapusan dwifungsi ABRI, kesenjangan ekonomi, dan lain – lain

Krisis Politik, seperti pertikaian politik, bentrokan, aksi kekerasan, dan lain – lain

Krisis Ekonmi, seperi jatuhnya mata uang hingga mencapai Rp.16.000/AS$

Krisis Sosial, seperti banyaknya terjadi kerusuhan – kerusuhan di berbagai kota.


Turunnya Prersiden Soeharto

Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto.

Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi presiden ketiga Indonesia.

Selesailah era Orde Baru

Sumber dan Referensi :

Dinamika Sejarah-3, Yudhistira
Tionghoa Dalam Pusaran Politik
30 tahun Indonesia Merdeka
id.wikipedia.org
Yahoo Answer
Artikel G-30-S/Soeharto bukan G-30-S/PKI
www.facebook.com/group.php?gid=31613503380
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua

Ucapkan terima kasih anda dengan meng-klik iklan di blog ini.
Terima Kasih